Luv Indonesian Culinary - luvinary.com

Candi Muara Takus

Kata Muara Takus berasal dan nama sebuah anak sungai kecil yang bernama Takui (Takus) yang bermuara di Sungai Kampar. Pendapat lain mengatakan “takus” berasal di bahasa Cina (Takuse yang artinya Ta = besar, ku = tua dan Se = candi. Jadi artinya candi besar tua yang terletak di muara sungai).

Muara Takus terletak pada belokan sungai Kampar Kanan, areal mencapai lebih kurang  1.25 Km persegi. Dibagian tengah terdapat jalan setapak dan Muara Mahat ke desa Tanjung. Di dekat jalan tersebut terdapat puing-puing bangunan lama. Selanjutnya beliau mengatakan “Gugusan candi Muara Takus dilingkari oleh dinding tembok empat persegi panjang dengan ukuran 74 x 74 meter persegi. Bahan bangunan dan batu pasir (tuff) dengan ketinggian lebih kurang 1 meter potongan batu itu semulanya mereka duga terbuat dan tanah, tapi setelah dikupas/dipatahkan ternyata terbuat dan hanya pasir putih yang disusun dengan rapi. Pada bagian tengah lapangan terdapat tumpukan batu, selain itu, didapati juga kayu bekas bangunan Biksu dan untuk keperluan lainnya. Team ekspedisi J. W. Yzerman (1889) menjumpai kompleks Candi Muara Takus berupa:
  • Stupa (Candi Mahligai)
  • Teras tinggi di sebelah timur Stupa (candi Palangka)
  • Candi Mahligai Bungsu dengan tuas yang terdapat hatas antara batu bata dan batu pasir Candi Tua/Tuo.
Yzerman juga mengatakan dalam tulisannya : bagian puncak menara terdapat batu dengan lukisan daun oval dan relief—relief sekelilingnya. Sekarang ini kita tidak dapat melihat bentuk ukiran dan relief seperti yang diceritakan oleh Yzerman tersebut. Stupa (candi Mahligai) merupakan bangunan yang masih dianggap baik. Sehingga dapat digambarkan menurut keadaan yang sebenarnya, namun ada bagian-hagian yang telah rusak/runtuh. Ukuran bata yang dipakai membangun candi adalah bervariasi. Panjang antara 23 sampai 26 cm, lebar 14 sampai dengan 15,5 cm dan tebalnya 3,5 cm sampai 4,5 cm.

http://www.bpi-kampar.go.id/